10 Proyek Gagal Google yang Mungkin Belum Kamu Ketahui


Semenjak Larry Page dan Sergey Brin mengubah cara pandang dunia terhadap mesin pencari dengan mendirikan Google, perusahaan ini kemudian terkenal sebagai raksasa mesin pencari dengan banyak produk-produk sukses seperti Google Search, Gmail, Google Drive, Google Maps, dan masih banyak lagi.

Google memiliki ciri khas bahwa apa saja yang diluncurkannya harus memberikan pengalaman pengguna terbaik kepada penggunanya, serta dengan biaya seminimum mungkin. Dengan mendasarkan pada filosofi tersebut, apapun yang diluncurkan oleh perusahaan website ini tampaknya selalu sukses dan memancing minat publik. Termasuk juga kesuksesan Google menyaingin iOS dengan OS Android-nya. Namun apakah benar demikian?

Meskipun Google diakui sangat bagus dalam ‘mengantisipasi’ masa depan dengan cara meluncurkan berbagai produk yang mengubah bagaimana dunia bergerak, tetap saja ada beberapa produk Google yang dianggap sebagai kegagalan besar.

Berikut ini kita akan membahas satu per satu produk-produk Google yang dikenang sebagai sebuah kegagalan. Mungkin beberapa diantaranya pernah kamu ketahui, tapi pasti kebanyakan kamu belum pernah mendengarnya (saking gagalnya…) Hehe…
 

Google Lively

Google Lively adalah salah satu contoh menarik mengenai ‘ide yang tepat, tapi implementasi yang keliru’. Jejaring sosial ini dikembangkan dengan premis bahwa orang-orang semakin mencintai ‘kehidupan online’, sehingga kenapa tidak memberikan ‘kehidupan online’ yang senyata mungkin di Internet?

Dengan mendasarkan ide tersebut, pengguna bisa membuat avatar untuk berinteraksi dalam sebuah lingkungan tiga dimensi yang mengkombinasikan dinamika chat dengan arsitektur bergaya “Minecraft” dan penciptaan ruang. Google Lively juga disertai Chat room yang memungkinkan kamu untuk berkomunikasi dengan teman secara nyata.

Hal inilah yang kemudian menjadi masalah. Mencampurkan antara dunia nyata (dengan grafis 3D) dengan dunia maya (chat room dan bulletin board) benar-benar tidak menarik minat orang-orang sama sekali. Menurut analisis, ini terjadi karena orang tentu saja mencari pengalaman yang berbeda di dunia maya. Sesuatu yang tidak sama dengan dunia nyata (Seperti chatting dan jejaring sosial), tapi tentu saja bukan berarti membawa figur dunia nyata (berupa avatar 3D dan pergerakan yang seperti game) ke dunia maya. Melalui Lively, kita harus bertemu orang lain, melakukan interaksi, dan kemiripan dengan pengalaman di dunia nyata ini justru menjadikan orang tidak tertarik pada Google Lively.

Google Answer

Pelopor sistem ini adalah Yahoo! Answer yang memang memiliki banyak penggemar tersendiri. Namun ketika Google membuat website serupa untuk menyaingi Yahoo, apa yang terjadi?

Sebenarnya, ketika seseorang menggunakan Google dan mengetikkan keyword, maka di mesin pencari langsung tampil sesuatu yang merupakan ‘jawaban’ atas apa yang ditanyakan oleh user tersebut. Akan tetapi, hal ini menjadi janggal ketika kita perlu mengajukan pertanyaan secara formal pada Google Answer. Tidak banyak yang ingin mencobanya, karena ini berbeda dengan imej tentang Google.

Google Print Ads dan Radio

Google adalah pelopor dalam sebuah sistem periklanan kreatif. Di Internet, Google menawarkan berbagai website untuk berbagi ‘sharing’ berupa hasil yang mereka terima bila ada seseorang yang mengklik spot iklan di Google. Teknik iklan kreatif ini ternyata menarik perhatian banyak orang, sehingga adwords semakin lama semakin ramai.
Akan tetapi, ketika Google mencoba mengiklankan materi di Google lewat sosialisasi media cetak dan radio, hasilnya adalah sebuah kegagalan!

Tidak banyak yang tertarik untuk memasang iklan lewat radio ataupun mencetakkannya di media massa dengan mengandalkan Google sebagai support. Namun proyek ini gagal karena orang memang sudah mempercayai Google sebagai sebuah raksasa Internet. Mereka tidak percaya pada media cetak dan radio yang dianggap tidak efektif untuk menyuarakan iklan mereka, termasuk meskipun Google-lah yang mengaturnya.

Dodgeball

Pada tahun 2005, Google melakukan akuisisi terhadap dua karya kreatif: Android dan Dodgeball. Yang kedua ini mungkin tidak pernah kita dengar. Dodgeball adalah jejaring sosial yang spesifik tergantung lokasi. Ia diakuisisi bersama pendirinya, Dennis Crowley pada bulan Mei 2005. Sekali lagi, Google mempertaruhkan visi antara menyatukan dunia online dan dunia nyata, menggabungkan pengalaman sosial dengan lokasi favorit, tentu saja bahasan tentang kuliner, traveling, dan sebagainya.
Setelah mengalami kebuntuan selama  dua tahun, Crowley meninggalkan Google dan mendirikan Foursquare. Masalahnya adalah pada perangkat. Pada saat itu, mendeteksi lokasi (Google belum memiliki fitur latitude) dengan Dodgeball sangat lambat sehingga ide ini tidak dapat berjalan dengan baik.
Mungkin kita patut menyebutnya: salah zaman. Bila saja proyek ini dipertahankan, mungkin saat ini menjadi hits. Di dunia sekarang dimana kamu bisa dengan mudah menyalakan GPS di smartphone, memanfaatkan Google Latitude, Facebook location, dan banyak lagi, maka mungkin Dodgeball juga akan punya kesempatan berjaya.

Jaiku

Google mengakuisisi situs mikro-blogging Jaiku pada bulan Oktober 2007. Idenya adalah posting singkat memanfaatkan RSS Feeds. Namun pada tahun 2009, jelas untuk persaingan mikro-blogging, Twitter-lah pemenangnya! Padahal ketika Jaiku diakuisisi Google dan mendapatkan sumber daya berlimpah, Twitter masih ada pada posisi yang sama dengan Jaiku, dan masih kekurangan dana!

Perceraian Google dan Jaiku dikelilingi oleh rumor perselisihan internal. Google secara resmi mengumumkan untuk menutup Jaiku pada tahun 2011.

Google Notebook

Google Notebook sebenarnya merupakan bentuk tua dari Google Docs, sebuah layanan penyimpanan berbasis Cloud, yang mana bisa mensinkronkan catatan dan tugas, terkoneksi dengan baik dari desktop maupun ponsel. Cukup menarik bukan?
Sayang pengembangannya penuh permasalahan, scriptnya penuh bug dan akhirnya diputuskan untuk tidak diintegrasikan ke dunia Google. Padahal ide dasarnya cukup cemerlang. Kamu bisa berbagi catatan, sekaligus juga saling memberi komentar dengan memanfaatkan fitur Google Notebook ini.

Google Buzz

Google Buzz ditambahkan pada Gmail pada tahun 2010. Ini merupakan layanan opsional yang muncul di folder tanpa peringatan.
Jadi sebenarnya apa bentuk Google Buzz ini? Ia mirip dengan Google Reader, dengan memanfaatkan RSS bisa melacak situs-situs favorit kita. Kelebihannya adalah, ia mudah digunakan pada perangkat handheld seperti tablet atau smartphone. Saat itu Smartphone belum populer. Kenapa ia muncul di Gmail? Google Buzz ini memungkinkan untuk mengumpulkan dan membaca email yang belum dibuka.

Mungkin bila Google Buzz dipertahankan, mungkin kita akan menikmatinya karena sekarang tablet dan smartphone merupakan perangkat yang umum dan memungkinkan untuk mengakses produk Google ini dengan lebih nyaman. sayang ia keburu dihentikan sebelum berkembang.

SideWiki – Wikipedia Alternatif

Google memiliki akses terhadap ribuan buku di aneka perpustakaan dunia. Ia bahkan memiliki klausul perjanjian khusus dengan beberapa universitas terkemuka untuk menyebarkan banyak buku secara gratis lewat Google Books. Oleh karena itu, adalah sesuatu yang wajar bila Google berpikir untuk menciptakan website ‘pembunuh wikipedia’ – sebuah website yang akan menyaingi manfaat dan fungsionalitas wikipedia dengan sumber yang lebih akurat.

Namun faktanya, tidak banyak yang tertarik untuk berpartisipasi dalam proyek ini. Semua orang sudah familiar dengan Wikipedia dan menolak untuk menggunakan satu situs lagi meskipun sebutannya ‘sampingan’ (Side Wiki). Terbukti bahwa tidak mudah bagi Google untuk melakukan monopoli begitu saja dengan memanfaatkan seluruh sumber dayanya.

Google Video

Tak perlu berpanjang lebar menjelaskan bahwa Google Video yang diluncurkan pada tahun 2005 ini tidak mampu menyaingi kepopuleran YouTube. Hingga pada akhirnya Google mengambil langkah pahit manis, yaitu mengakuisisi YouTube dengan nilai mencapai milyar dollar AS. Akuisisi ini dilakukan untuk menjaga monopoli Google dalam mesin pencari.

Dengan memiliki YouTube, Google memastikan traffic utama tetap mengalir ke Google seutuhnya. Ini berdampak besar pada kesediaan memasang iklan dengan menggunakan produk-produk Google seperti Adsense dan Adwords.

Google Wave

Google Wave merupakan kegagalan Google yang paling terkenal. Tujuan awalnya adalah sebuah website berbagi konten secara menyeluruh. Jadi dengan menggunakan Google Wave, kita bisa berkirim surat, memutar video, berbagi artikel seperti di Forum, chatting, dan banyak lagi. Tapi pada akhirnya karena manfaatnya yang terlalu besar, justru menjadi ambigu dan tidak spesifik.
Justru malah akhirnya tidak menarik pengunjung untuk datang. Orang sudah memiliki ‘langganan’ tersendiri dalam melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Misalnya, kirim surat bisa lewat Gmail, chatting bisa lewat YM, sebuah website all-in-one justru menjadi konsep yang tak menarik bagi banyak orang!
 
Menyaksikan ulasan tersebut, ternyata banyak juga produk Google yang gagal. Namun tentu saja ini tidak menjadi alasan bagi sang raksasa untuk berhenti berinovasi. Hal inilah yang sebenarnya patut kita contoh. Gagal, dicaci maki seluruh dunia, tapi tak pernah berhenti. Terus maju dan berusaha untuk setia dengan prinsip-prinsip dasar yang telah membentuknya, yaitu tetap berinovasi, dan mengutamakan kebaikan bagi dunia – setidaknya itu yang pernah dikatakan oleh Larry Page.
Sumber : pusatgratis

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s